Thursday, May 24, 2012

Melakukan tindakan kasar kepada orang lain? : PIKIR DULU BUNG!

Jika kalian merupakan salah satu dari pihak yang mengatas namakan prilaku kasar untuk mendidik atau memberi pelajaran kepada orang lain, PIKIR DULU!
Memang kalian berpikir bahwa omongan yang kasar dapat mengubah bahkan merusak psikologis seseorang?

Mungkin kalian berpikir dengan cara seperti ini,

'Kau itu manusia. Kau punya otak. Dan harusnya kau gunakan itu untuk berpikir dan menyaring mana yang baik dan yang buruk. Kalau kau dikatai kasar, yang jangan dimasuki kehati. Kan gampang. Kalau prilaku itu memang buruk, ya gak usah diikuti. Kok susah? Situ punya otak kan?'

Dasar orang awam.
Sifat dasar manusia memang begitu kali ya?
Bisa menjadi sangat atau malah lebih ke SOK bijak ketika ingin melakukan pembelaan terhadap diri sendiri.
Spontan, Bijak, Menang.
PUAS.

Dan memang dasar orang awam.
Tidakkah kalian tau bahwa kata-kata menyinggung itu hanya akan membuat nasihat yang diberikan masuk ke telinga kanan, keluar ke telinga kiri?
Yang ada, kata-kata bajing seperti itu hanya akan meninggalkan bekas karna sakit hati.

'Kau dikatai kasar kan karna ulahmu sendiri! Jadi terimalah!'

Kalau gitu kau tidak punya hak untuk memarahiku jika suatu saat nanti aku akan mengataimu seperti halnya saat kau mengataiku dengan kasar.


Jika yang kau lakukan lebih seperti untuk mengubah orang lain, pikir dulu.
'Kau memang harus dikata-katai supaya berubah!'

Kalau gitu kau hanyalah manusia tolol yang tidak pernah tau kutipan berikut "Perubahan akan sulit dilakukan jika tidak ada dukungan dari lingkungan".

DAN! Jika kalian adalah orang tua yang melakukan tindakan tesebut demi merubah perlakuan anak anda, pikir sekali lagi.
Alih-alih jika anakmu pintar dan pandai membangun diri.
Dia pasti tidak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Karna tentunya dia lebih punya otak dibanding orang tuanya.
Dia tau bahwa kata-kata kasar hanya akan melukai perasaan, dan dia tak mau sampai temannya merasakan hal yang sama ketika anak anda tak sengaja mengatai temannya tersebut.
Dan itu hanya akan berlaku KALAU ANAK ANDA PINTAR.

Kalau tolol gimana?
Ya jadilah anak yang kasar. Selesai riwayat anakmu.

 Well,
Mungkin mengatai merupakan salah satu contoh tindakan khilaf. Hanya berdasar emosi sesaat.
Tapi ketahuilah dimana dan kapan kau menggunakan itu.

Bercanda dengan teman baik mungkin termasuk hal yang biasa.
Tapi kalau memakainya untuk memojokkan? Menasehati?? Itu namanya tolol.
Lain halnya jika orang yang kau katai habis memperkosa anjingmu. Atau mungkin membunuh anggota keluargamu. Itu 'baru' mungkin pantas.

Jangan sampai hanya karna ucapan tak berisi, membuat kita dicap tidak sebagai mana mestinya.
'Kok udah tua omongannya masih kayak ababil?'
'Itu mulut cewek apa cowok sih?'
Ya jangan sakit hati saja kalau dikatai begitu.


Prilaku kita memang sudah pasti akan membawa kita pada bagaimana orang lain akan memperlakukan kita nantinya.


Saya sendiri tidak pernah memaksa para blog readers saya untuk berkata bak nabi yang baru turun ke Bumi. Itu karna saya sadar tutur cara bahasa yang saya pakai juga tidak semanis, secantik, dan sehalus bak seorang nabi.

'Mengatai' memang akan cukup menancap dihati.
Tapi pelajari kapan, dimana, dan maksudnya.
Jika tidak mau orang lain berbuat buruk kepadamu, ya jangan berbuat buruk juga.



Kau mau terima yang baik-baik saja setelah kau melakukan hal buruk?


Kalau begitu,

Tidak ada salahya jika kau




                             MATI SAJA.
















Saturday, April 28, 2012

Cerpen : Benang merah.

Jodoh itu….katanya ditangan Tuhan.

Tapi kalau ternyata jodohmu itu sama jenis denganmu bagaimana?

Apa kau bisa menerima keadaan itu? Atau malah memilih menghindar?

Inilah yang terjadi padaku.

Aku…menjalin hubungan dengan sesama jenis.

Pernah sesekali aku bercinta dengan lawan jenis. Berpacaran dengan lawan jenis juga pernah. Hal itu kulakukan hanya untuk mencoba pembuktian atau alih-alih untuk menyangkal bahwa aku seorang penyuka sesama jenis.

Aku sudah berusaha keras. Tapi mau dilakoni kayak gimanapun, aku tetap tidak berubah.

Aku selalu merasa ini terlalu salah dan berbeda. Hal itu aku yakini ketika aku merasa perbedaan tingkat nyaman dan nikmat yang kuterima ketika aku bercinta dengan sesama jenis terlalu signifikan.

Well…Inilah kenyataan kawan. Dulu sering sekali aku berkata pada diriku kalau aku bukan lah seorang penuka sesama jenis. Aku bukan gay! Sampai akhirnya aku bosan dan muak pada diriku sendiri karna selalu menyangkalnya.

Benarkah aku seperti ini?? Haruskah aku sepert ini??? Kenapa aku???

...

Ketahuilah namaku Rendra. Aku hanya seorang mahasiswa semester akhir yang terlibat hubungan cinta dengan seorang karyawan di perusahaan TV swasta. Kami memiliki perbedaan jarak umur yang lumayan jauh yaitu 8 tahun.

Sudah barang tentu aku mencintainya. Dan hanya itu pulalah yang aku tau dan perjuangkan selama ini.

 Bagiku cinta itu sebuah pemberian dan pula penguat.
Aku mencintainya bukan untuk alasan khusus, namun hanya untuk yang sederhana.

Semanis apapun jalan cerita percintaanku, hidup ini tetap sebagaimana adanya.

Tanggapan minor dari masyarakat mau gak mau harus kuterima dengan lapang dada.

Banyak komentar-komentar dari masyarakat tentang orang-orang sepertiku.
Dan beberapa justru sangat menyakitkan.

“Ih, Sinting lo ye ?!!”

“Lu sakit ye?”

“Najis lo! Gak normal!”

“Psikolog sekarang atau lo gak bakal selamet”

“Lo gak takut neraka?”

“Tuhan gak menerima orang seperti lo!!”

Komentar-komentar seperti itulah yang membuat dadaku nyeri menahan sakit.

Aku selalu menahan amarah. Tapi aku tau aku tidak bisa marah. Aku mau marah ke siapa coba? Ke massa? atau ke Tuhan??

Mengertilah..Aku bukannya tidak mau mencoba, aku hanya tidak bisa! Aku juga tidak pernah memilih untuk menjadi diriku yang seperti ini.
Tuhan lah yang menciptakan ku. Kenapa harus aku yang harus disalahkan atas ketidaksempurnaan-Nya menciptakan manusia? Kenapa tidak kau salahkan dia??

Kemarahanku mau tidak mau selalu tidak bertahan lama. Karna aku tau aku hanya bisa bertahan. Selain itu kehadirannya--kekasihku, juga salah satu alsan kenapa aku selalu bersabar dan bertahan menghadapi kenyataan. Dengannya, mengingatkan aku bahwa aku tidak sendirian. Dia selalu ada untukku ketika aku sedang gusar. Ya…hanya kekasihku itu.

“Kita ini spesial, sayang. Tidak semua orang bisa bertahan dalam cobaan seperti ini.” katanya menenangkanku.

Aku memeluknya, berusaha untuk menenangkan diri. 
Kemudian aku melengos dan berkata,
“Iya mas…..tapi kita tidak mungkin bisa seperti ini terus.”  ujarku kemudian

“Optimis sajalah… aku yakin kita pasti bisa.”

Lalu aku bangun dari dekapannya “Tapi, apa yang akan kita bilang pada orang tua kita nanti?”

“Kalau kamu bersabar, semua pasti akan ada jalannya, Ren. Tugas kita hanya menjalankan apa yang sudah direncanakan. Jadi, bersabarlah.....Ya?” Jawabnya bijak sembari mengusap pipiku.

Aku tidak memberikan sepatah katapun.

Dia kembali mendekapku. Membelai halus kepalaku. Ketika semuanya sudah begini, aku hanya bisa diam.

Sebenarnya aku kerap berpikir bahwa dialah jodohku.

Kami sudah menjalani hubungan ini cukup lama. Sekitar 5 tahun. Tapi rencana akan masa depan selalu menyerang dan mengganggu pikiranku.

Aku….

Takut…

Aku takut akan masa depan.

Aku takut jika pada akhirnya aku harus meninggalkannya hanya untuk memenuhi prosedur kehidupan di dunia. Prosedur yang megatakan bahwa menjadi Gay itu adalah aib. Lelaki—perempuan harus bersama dan punya anak.

Haruskah aku bersembunyi di balik rok istriku nanti?

Atau haruskah aku menjalani hubungan dalam persembunyian ini sampai waktu yang tidak ditentukan?

Apakah aku hanya perlu berserah menunggu jawaban?

Hari ini hujan turun dengan hebat.

Lagi-lagi aku berpikir akan masa depanku dengan Mas Ryan, kekasihku.

Mas…

Bukannya aku tidak percaya atau tidak meyakinimu.

Namun hidup ini terkadang terlalu berat dan kejam untukku.

Andaikan saja ada kotak surat khusus untuk Tuhan, aku ingin sekali memintanya untuk memberiku petunjuk untuk menjalani hidup ini.

Haruskah aku menjadi palsu?

Atau aku memang harus bertahan?

By : Boo and Handy

~ ~ ~

Don't be silent reader.
Leave comment if you have eyes for read and hand to type. :)


Katika kau bukan lagi seorang artis.

Anastasia Aprillia....
Nama yang bagus bukan?
Untuk seorang artis namaku sebenarnya cukup menjual. Tapi bukan itu yang sebenarnya mau kubahas disini.
Masih ingat benar aku disaat pertama kali aku didaulat menjadi artis remaja masa kini.
Banyak sekali makhluk-makhluk yang memposting ucapan selamat serta support dan segala tetek bengeknya di timeline facebook saya. Kebanjiran mention di twitter. Daaaaan---Dihujani sms serta telpon dari orang-orang yang mengatas namakan 'pertemanan'.

Ha.

Where the fuck are you guys when I am NOBODY?

And yes.
Let's be wise you say.
Kalau kita cari kesimpulan melalui sisi bijak bajik bajing-nya, para teman...ya. para teman itu mungkin turut senang dan bangga atas kesuksesan temannya.
Siapa sih yang gak bangga punya temen artis?

Tapi yaaaaahh...mari salahkan pihak yang selalu ingin terlihat ikut campur dengan apa yang saya posting di facebook maupun twitter.
Selalu meng-ERTE ataupun meng-like atau nimbrung dengan sekenanya.
Belum lagi yang tiba-tiba menuliskan kata berikut : "ah kamu sombong sama temen lama mentang-mentang sudah jadi artis"
Hello?
Kita bahkan jarang mengobrol. Setelah lama tidak bertemu tak ada satupun dari kita yang berniat untuk saling menghubungi. Jadi apa? Sama-sama sombong kah? Atau sebenarnya kamu tidak punya hak untuk berkata begitu?

Okay.
Sekarang lupakan teman-teman tipikal diatas.
Mereka--hanya sekumpulan orang gak banget yang akhirnya akan hilang gitu aja.

Lanjut ketika aku baru-baru saja menapaki dunia yang namanya entertainment.
Dengan penampilan yang menunjang, sudah barang tentu aku cepat naik daun.
Kebanjiran iklan dan tawaran main sinetron maupun film.Tawaran menyanyi dan menjadi presenter tak kalah banyaknya.

Sebagai artis dengan usia yang cukup belia, Kurasa gak ada salahnya untuk mencoba segala peruntungan yang ada. Jadi kucoba saja beberapa Hasilnya? Sukses besar.

Awalnya aku pikir aku bertemu banyak teman baru dan bahkan keluarga serta teman baik baru.
Bisa ditebak dengan jelas pada akhirnya teman mainku ya para artis juga. Shopping bareng ampe dompet tipis, ngobrol ampe mulut berbusa, foto-foto bareng sampai memenuhi memori hape dan laptop, telfon-telfonan sampai tepar, nginep bareng pun sudah jadi hal yang sangat biasa.

Setelah aku menuai segalanya, kesuksesan, ketenaran, dan rasa hormat dari banyak pihak, aku berkesimpulan hidup ini...begitu indah.
Atau mungkin jadi begitu indah.
Coba bayangkan...
Berjalan disudut manapun, tidak ada yang tidak mengenalku.
Apapun bisa kubeli sekarang. 
Apartemen nyaman nan luas full facilities.
Kasur yang empuk dan nyaman.
Rambut dan kulitku juga sangat sehat berkat berbagai treatment. 
Baju, sepatu dan tas branded, Lengkap.
Segala jenis smart gadget, Lengkap.
Mobil? Lengkap.
Semua lengkap.
Aku sedang berada di puncak!!
Dari ujung kaki keujung kepala semua lengkap!
Hidupku-
lengkap-
selengkap-
lengkapnya.

Aku tidak pernah berpikir kalau Dewi Fortuna benar-benar berpihak padaku, sampai akhirnya mau gak mau aku harus menerima kenyataan bahwa hidup itu gak akan bisa selalu menjunjungku ditempat tertinggi.
Masih banyak orang yang menunggu giliran dan mangambil posisiku pada akhirnya.
Kesimpulannya, setelah beberapa lama, aku jatuh keposisi terbawah setelah terkena skandal.
Naasnya ini baru tahun pertama sejak napak tilas saya. Haha..benar..tepat setelah aku berpikir betapa indahnya hidup ini.
Soal skandal apa, kalian tak perlu tau lah.
Karna yang namanya skandal gak ada yang beraroma manis.

Aku tau aku jatuh karna ulahku sendiri. Aku juga tau aku bodoh. Akupun tau seharusnya aku bisa setidak-tidaknya menjaga posisiku dibaris kedua. Gak perlu teratas. Kedua sudah cukup--andaikata aku tidak bertindak bodoh dan gegabah.

Jadi....inilah aku sekarang.
Semua aset habis dalam waktu sekejap hanya untuk membayar beberapa pengacara dan denda.
Pada akhirnya aku berakhir menjadi tahanan jalan.
Akupun kembali ke aku yang dulu.

Yang bukan siapa-siapa.

Orang-orang dalam foto yang memenuhi kartu memori smartphone ku gak tau pada kemana. Kutelfon juga gak ada jawaban. Katakanlah mereka sibuk.
Okay...jadi..inilah keluarga baruku..inilah teman baik baruku.
Haha. Mau dilihat dari segi manapun yang kutangkap hanya omong kosong.

Baiklah...ada beberapa yang masih care. Tapi tidak se-care dulu.
Orang-orang yang sering me-mention saya waktu itu? Mereka-STOP melakukannya.
Fans juga banyak yang berkurang.
Semua hilang seiring dengan lenyapnya popularitasku.
Dari sinilah awal mula aku belajar untuk berpikir dewasa walaupun aku tak mau.
Tapi kenyataan memaksaku untuk melakukannya.
Kejam memang. Tapi ternyata inilah yang namanya hidup.

Akupun memutuskan kembali ke kampung halamanku di Balikpapan.
Keluargaku....menyambut dengan penuh cinta kasih.
Untungnya mereka tidak membahas soal skandalku. Hanya memberi dukungan moral serta berbagai macam support yang lain.
Hal ini justru yang membuat alur hidupku semakin tragis dan pula mengejutkanku.
Kenapa aku baru menyadari bahwa keluargalah yang pada akhirnya akan menerimamu dengan lapang dada ketika tak ada seorang pun yang sudi menengok kearahmu?

Akupun teringat ketika paman-pamanku mencari berbagai relasi untuk melepaskanku dari jeratan hukum.
Kenapa aku baru sadar betapa berharganya sebuah keluarga?
Kenapa baru sekarang?
Aku menyesal tidak pernah memberi perhatian lebih ketika aku sendiri masih mapan dan serba berkelebihan.

Dan baru-baru ini teman-teman baikku semasa aku belum dikenal menanyakan kabar dan juga mensupportku lewat sms dan telpon.
Sedih sekali rasanya mengingat merekalah teman-teman yang mensupportku pertama kali ketika aku baru mengikuti berbagai audisi pemilihan calon artis dan akhirnya terpilih sampai menjadi artis. Mereka bukan lah bagian dari orang-orang yang me-mention ku secara habis-habisan dan pula tidak mendapat perhatian lebih dariku.

..."Kalau balik ke Balikpapan ayo kita jalan-jalan bareng lagi :)"...
..."Tetep semangat. Jangan nyerah. Life must go on! :D Eh kapan lagi nih mau makan stik di cafe pengkolan deket rumah lu waktu itu? wkwkwkwk"...

Walaupun hanya pesan sederhana mereka sukses membuat hatiku trenyuh.
Yah....
Pada akhirnya kepada merekalah aku kembali.
Keluarga...Teman-teman 'asli' yang sempat kulupakan..dan pada Tuhan. Harusnya dari awal aku bersyukur. Namun tak ada kata terlambat bukan?

Untuk sekarang mungkin aku gak akan langsung mengejar kaririku dibidang entertainment lagi.
Aku ingin mengistirahatkan diriku dulu.
Belajar tentang pendewasaan dan belajar bagaiman cara menilai dan menghargai apa yang ada disekitarmu.

Kawan. Inilah aku dan inilah hidup.
Satu kali kau berbuat kesalahan, kau mungkin dapat memperbaiki itu.
Tapi akan memakan waktu yang cukup lama untuk kau bangkit kembali ketika kau tidak bisa mensyukuri apa yang telah kau dapat dan menyadari betapa berharganya orang disekitarmu dan betapa banyaknya hal yang sebenarnya masih dapat kau lakukan.

 Yah..sekianlah cerita dariku.
Semoga...terhibur. Mungkin.




~ ~ ~


Komen ditunggu ;)