Mungkin ini tidak seberapa dibandingkan dengan kawan-kawan disana yang sudah atau dalam tahap melupakan seseorang yang tentunya sanagt berarti bagi masing-masing pribadi.
Saya akan berbagi cerita tentang betapa penghabisan waktu akan membuat kita terlihat sangat bodoh dan membuat kita jijik pada diri sendiri pada kemudian hari.
3 tahun setelah saya mengenal orang itu.
ORANG ITU.
Yang membuat saya pada akhirnya memakan mentah-mentah karma saya sendiri.
Selama setahun penuh setelah dia 'hilang' saya mulai dihantui dengan memori saya yang dengan indahnya berisi tentang kebodohan, pembualan, yang sangat gak banget dan berujung pada penyesalan.
Selalu begitu kan?
Namanya juga penyesalan.
Pastilah kita secara tidak sengaja mengingat-ngingat kejadian-kejadian yang sudah lalu yang sebenarnya menunjukan kebodohan diri kita sendiri dan seolah-oleh seperti dikatai kayak gini :
'ini lho! Ini yang waktu itu kamu lakukan! persis kayak gini! Inget gak? Liat noh ekspresinya! Kenapa kamu begitu? Harusnya nggak! blablablablablablala!!!'
Kenapa saya menyesal? Karna saya menyia-nyiakan waktu.
Kenapa menyia-nyiakan? Karna saya pikir dia akan terus menunggu saya dan waktu tersisa masih sangat lah banyak. Selain itu? Saya menikmati rasa malu yang menggerogoti saya sehingga saya selalu menunda-nunda tindakan yang harusnya saya lakukan sejak dulu.
Tidak hanya mengabaikan, saya juga mencampakkannya.
Dan alhasil karna saya selalu mencampakkannya layak seekor bajing, dia pergi.
Dia meniggalkan saya dengan tidak terhormat.
Tanpa permisi, tanpa ucapan selamat tinggal, semua memori ditutup rapat serapat-rapatnya, lalu dibuang, dimusnahkan kemudian hilang.
Dia hilang.
Tau hilang?
HILANG. Bukan sekadar pergi.
Serasa kita-bukan-orang-yang pernah-mengenal-satu-sama-lain.
Wuaaaaaahhh..
Mantap bukan??
Bisa bayangkan betapa marah dan gelisahnya saya saat itu???
Disaat saya masih menaruh perasaan - yang sialnya semakin dalam dan dalam, dia hilang.
Lalu perasaan saya ini mau dibawa kemanaaaaaa???
Diantara kemarahan dan kesedihan saya yang tak berujung - seperti yang biasa remaja lakukan - memaki.
Ya. Saya memaki dia. Menghujat-hujat.
Saya waktu itu belum tau sebenernya yang petut di anjing-anjingi sebenarnya saya.
3 tahun
1 tahun penuh omong kosong bersama dia.
2 tahun sisanya diisi dengan = 1 tahun maki-maki gak jelas + nyesel, dan 1 tahunnya lagi diisi dengan penyesalan dan sadar diri siapa sebenernya yang salah.
Sialnya.
Ya. Sialnya, 3 tahun itu perasaan saya masih sama. Hanya tingkat keberingasannya saja yang berbeda.
Seolah-olah Tuhan ingin berkata :
"Ini saya kasi rasain yang namanya Karma. Kamu sih..udah dikasi kesempatan bok ya dipake dengan baik. Kamu gak hanya suruh orang nunggu, tapi juga membuat dia merasakan sakit hati. Dia lama lo sakit hatinya. Mungkin sakit hati mu juga bakal hilang ketika dia sudah bisa memaafkan kamu juga...nah sudah...sekarang terima aja ya...."
Gubraaaaaaaaaaaaaakkkkkkk
Gambaran itu selalu kegambar jelas di otakku.
Dan YA!
Sekarang aku mulai menerima hukuman atas apa yang kulakukan.
Itulah teman-teman.
Kalau ada kesempatan didepan mata, dipake!
Susah memang, tapi kalau tiba-tiba kesempatan itu hilang sebelum kita pake gimana?
Nyesel itu merupakan salah satu perasaan membunuh nomer satu sebelum sakit hati.
Jadi gunakanlah sebelum terlambat.
Dan telaahlah lebih jauh ketika hendak menyelahkan orang.
Yah..itu saja curhatan saya pada hari ini.
Tumben memang..
Tapi mau bagaimana?
G'Nite ^ ^
sdah gk usah disesali,ntar kan dpt yg lbih baik lgi. heheh
ReplyDeleteya sukur2 kalo dapet mas.. =-=
Deleteyih... --"
ReplyDeletetrue story ini mbak..cuma ga terlalu blak-blakan
Delete